
Wacanakaltim.com – Di saat banyak politisi sibuk membagi waktu antara panggung dan rapat, Jimmi justru memilih membagi hidupnya antara ruang paripurna dan ruang kelas. Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim) periode 2024–2029 ini punya agenda tetap yang tak biasa: mengajar.
Satu dua murid datang lebih awal pagi itu. Di ruang kelas SMK tempat ia mengajar, papan tulis masih kosong. Tapi di meja guru, pria berjengot itu sudah duduk dengan setumpuk kertas. Hari ini bukan soal revisi anggaran atau pembahasan Perda. Hari ini tentang logika dan nilai—bukan politik, tapi pelajaran.
“Kalau saya tak sempat mengajar, saya merasa kehilangan,” kata Jimmi saat ditemui usai sesi mengajar.
Politik, menurutnya, adalah alat untuk memperjuangkan nilai. Tapi pendidikan adalah tempat nilai itu ditanamkan. Dua dunia itu tidak bertabrakan, justru saling menopang.
Jimmi bukan orang baru di dunia legislatif. Ia pertama kali terpilih pada 2019 dengan 2.667 suara dari dapil Kutim 1. Saat itu, ia hanya satu-satunya kader PKS di dapil tersebut. Namun pada 2024, suaranya melonjak jadi 3.659. Ia tak hanya kembali duduk di dewan, tapi juga memimpin lembaganya.
Di tengah tuntutan jabatan politik, ia justru menolak meninggalkan identitas lamanya sebagai guru. “Anak-anak di sekolah mengingatkan saya untuk tidak lupa darimana saya berangkat,” ucapnya.
Sebagai Ketua DPRD, Jimmi dikenal kalem tapi fokus. Ia tak sering tampil di media, namun rekan-rekannya tahu ia punya pendirian kuat terutama dalam mendorong Kutim mengurangi ketergantungan pada tambang. Ia berulang kali menekankan pentingnya penguatan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi.
Di luar sidang dan sesi mengajar, ia sering hadir diam-diam di acara warga. Kadang jadi pembicara, kadang hanya duduk mendengarkan. “Politik butuh banyak mendengar,” katanya pendek.
Mungkin tak banyak Ketua DPRD yang masih rela berdiri di depan kelas, menjelaskan materi di tengah jadwal yang padat. Tapi bagi Jimmi, justru dari sana ia menjaga akarnya.(*)




