
Wacanakaltim.id – Malam belum habis saat tubuh remaja laki-laki itu ditemukan tergeletak di atas aspal dingin. Sepeda motornya ringsek. Tak ada suara. Tak ada pelaku. Hanya lampu-lampu kendaraan sesekali menyapu tubuh kecil yang sudah tak bernyawa itu.
MA, 14 tahun, pelajar kelas dua SMP di Bengalon, meregang nyawa di Kilometer 125, ruas Jalan Poros Bengalon–Kaliorang, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Senin dini hari, 9 Juni 2025. Ia hendak pulang ke rumahnya di Gunung Kudung usai belanja malam di Pasar Tepian Baru. Tapi ia tak pernah sampai.
Diduga kuat, MA menjadi korban tabrak lari. Seorang saksi mata mengabadikan detik-detik kecelakaan dalam rekaman video amatir, yang kemudian viral di TikTok lewat akun @kurakuradarat78. Dalam video itu, pengendara menyebut sebuah dump truk menyalip secara paksa di jalan sempit dan menabrak korban dari arah berlawanan.
“Dia salip paksa orang. Pas dia salip paksa, tabrak motor. Meninggal di tempat. Kenapa dia kabur?” suara si perekam terdengar menggetar. Video itu menyebar cepat: ditanggapi lebih dari 1.700 akun, dikomentari 159 orang, dan dibagikan puluhan kali.
Kapolsek Bengalon IPTU M. Yazid mengatakan, timnya segera datang ke lokasi begitu menerima laporan warga. “Kejadiannya setengah satuan. Anggota pos polisi langsung evakuasi korban ke puskesmas. Tapi saat kami tiba, kendaraan dan sopir truk tidak ditemukan,” ujarnya kepada wartawan.
Penanganan kasus kini berada di tangan Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Laka Lantas) Polres Kutai Timur. Sementara itu, petugas Polsek Bengalon membantu pengumpulan keterangan saksi dan bukti di sekitar lokasi kejadian.
Keluarga korban masih terpukul. Herawati, warga sekitar yang mengenal keluarga MA, menyebut sang ibu nyaris tak berhenti menangis. “Mereka cuma minta pelaku muncul, bertanggung jawab. Jangan sembunyi dan hidup dalam rasa bersalah,” katanya lirih.
Tak sedikit warga Bengalon yang menyalahkan kondisi jalan. Poros Bengalon–Kaliorang selama ini dikenal sempit, minim penerangan, dan nyaris tanpa pengawasan meski kerap dilalui kendaraan berat—terutama truk sawit dari kawasan perkebunan sekitar.
Kematian MA, bagi sebagian orang, bukan sekadar kecelakaan. Ia menambah daftar panjang nyawa muda yang melayang di jalanan Kutai Timur. Kali ini, bukan karena ugal-ugalan. Tapi karena sistem yang membiarkan kendaraan besar melaju bebas di jalan kecil tanpa aturan yang cukup. Di bawah langit dini hari, satu keluarga kehilangan putranya—dan kita kembali dihadapkan pada pertanyaan lama: siapa yang melindungi mereka?




