
Wacanakaltim.id – Pagi itu, di salah satu sudut jalan Kabupaten Kutai Timur, seorang ibu berhenti karena dihentikan polisi. Tapi tak ada teguran, tak ada surat tilang. Yang ia terima justru bunga, sebuah pin kecil, dan helm baru.
“Saya kaget diberi bunga dan pin, selain helm. Ini cara yang sangat baik untuk mengingatkan kami agar lebih hati-hati di jalan. Terima kasih banyak kepada Polres Kutai Timur,” ujar Ibu Siti (38), sambil tersenyum malu-malu.
Hari itu, Jumat (25/7/2025), Kepolisian Resor Kutai Timur memang tidak sedang berbicara dengan nada tinggi. Mereka berbagi. Membagikan 40 helm, 28 bunga, dan 50 gantungan kunci kepada para pengendara di beberapa titik strategis. Sebuah pendekatan yang tak biasa dalam dunia penegakan hukum jalan raya.
Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K., M.H. turun langsung ke jalan. Ia tak sendiri. Ada Kasat Lantas AKP Rezky Nur Meihendra, S.Tr.K., S.I.K., M.Si., pejabat utama Polres, personel TNI, Dinas Perhubungan, dan berbagai pihak yang turut mendampingi. Mereka tak membawa tilang, tapi membawa pesan.
“Kami tidak hanya melakukan penegakan hukum, tetapi juga berupaya secara masif untuk mensosialisasikan urgensi penggunaan helm yang sesuai standar, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keselamatan berlalu lintas sebagai tanggung jawab bersama.
Pemberian bunga adalah simbol apresiasi kami kepada masyarakat yang telah tertib, sekaligus ajakan lembut bagi mereka yang masih perlu diingatkan. Gantungan kunci yang kami berikan diharapkan menjadi pengingat konstan untuk selalu mematuhi aturan,” ucap Kapolres.
Di tengah lalu lintas yang kadang terburu-buru, langkah ini seperti jeda. Edukasi lalu lintas disampaikan dengan pendekatan manusiawi. Tak hanya soal helm dan surat kendaraan, tapi juga soal rasa: bahwa keselamatan bukan soal denda, melainkan tentang pulang dengan selamat.
Petugas yang turun tak hanya memberi. Mereka mengajak bicara, mendengarkan, dan mengingatkan. Tentang sabuk pengaman, etika berkendara, hingga pentingnya mematuhi rambu lalu lintas. Semua disampaikan dalam nada rendah, tetapi dengan pesan yang kuat.
Operasi Patuh Mahakam 2025, yang biasanya identik dengan razia dan penilangan, kali ini terasa berbeda. Lebih lembut. Lebih mengajak. Polres Kutim seakan berkata bahwa jalan raya bukan hanya tempat berlalu-lalang kendaraan, tapi juga ruang di mana kesadaran dan kepedulian bisa tumbuh. (*)




