Dari Halaman Rumah di Road 1D, Demokrasi Akar Rumput Warga Singa Gembara Menentukan Arah Lingkungan

Wacanakaltim.id, SANGATTA – Pagi itu, halaman sebuah rumah di Jalan Road 1D, Dusun VIII, Desa Singa Gembara, tak lagi sekadar ruang berkumpul. Kursi-kursi plastik tersusun rapi, warga berdatangan satu per satu, dan sebuah kotak suara menjadi pusat perhatian. Di tempat sederhana itulah, demokrasi tingkat paling dasar dijalankan, Senin (12/1/2026).
Sebanyak 93 warga RT 27 menggunakan hak pilih mereka untuk menentukan siapa yang akan memimpin lingkungan selama lima tahun ke depan. Pemilihan Ketua RT digelar menyusul berakhirnya masa jabatan pengurus sebelumnya. Meski skalanya kecil, suasana pemungutan suara berlangsung serius, tertib, dan penuh antusiasme.
Di antara warga yang antre memberikan suara, hadir pula aparat negara. Bhabinkamtibmas Aipda Eko Slamet Riyanto tampak berdialog santai dengan warga, sementara Babinsa Sertu Agus Junaidi memantau dari sudut halaman. Kehadiran keduanya bukan sekadar pengamanan, melainkan bagian dari upaya memastikan proses demokrasi berjalan tanpa tekanan dan gangguan.
Kepala Desa Singa Gembara, Hamriani Kassa, bersama Sekretaris Desa Nuryahdin dan perangkat desa lainnya ikut menyaksikan jalannya pemilihan. Mereka memantau proses dari awal hingga penghitungan suara, memastikan setiap tahapan berjalan sesuai kesepakatan bersama warga.
Kapolres Kutai Timur, AKBP Fauzan Arianto melalui Kapolsek Sangatta Utara, Iptu Alan Firdaus, menegaskan pentingnya kehadiran aparat dalam kegiatan masyarakat, termasuk dalam pemilihan di tingkat rukun tetangga.
“Kehadiran Bhabinkamtibmas yang bersinergi dengan Babinsa dalam kegiatan ini adalah wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat. Kami ingin memastikan proses demokrasi, sekecil apapun lingkupnya, dapat berjalan aman, transparan, dan kondusif,” ujar Iptu Alan Firdaus saat dikonfirmasi.
Menurut Alan, pengamanan juga dimaknai sebagai langkah cooling system untuk meredam potensi gesekan. Perbedaan pilihan, kata dia, adalah bagian tak terpisahkan dari demokrasi, namun harus dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik sosial.
“Dalam setiap pemilihan pasti ada perbedaan pilihan. Peran aparat di sana untuk memastikan perbedaan tersebut tidak memicu gesekan, sehingga kerukunan antarwarga di Desa Singa Gembara tetap terjaga pasca pemilihan,” tegas Kapolsek.
Ketika penghitungan suara selesai, kompetisi yang sejak awal terasa ketat akhirnya menemukan pemenangnya. Yusdek Mau Blegur meraih 48 suara dan terpilih sebagai Ketua RT 27 periode 2026–2031. Pesaingnya, Ahmad Manaf, memperoleh 43 suara, sementara dua suara dinyatakan tidak sah.
Tak ada sorak berlebihan, tak pula raut kecewa yang mencolok. Warga kembali berbincang, sebagian membantu merapikan kursi, sebagian lain berbincang ringan. Pemilihan usai, kehidupan bertetangga berlanjut.
Di halaman rumah sederhana itu, demokrasi telah dijalankan. Bukan dengan baliho besar atau panggung megah, melainkan lewat kehadiran warga, selembar surat suara, dan kesediaan menerima hasil bersama. Sebuah potret demokrasi akar rumput yang hidup dan bekerja dalam keseharian masyarakat Singa Gembara.(*)




