HeadlineKutai Timur

Bunga, Doa, dan Harapan: Nyekar di TPU Silva Duta Sangatta Selatan

Wacanakaltim.id – Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, tiba saatnya merayakan Idulfitri. Hari kemenangan yang dinanti-nanti, momen kebahagiaan yang juga diwarnai dengan tradisi bermaaf-maafan.

Lebaran tak hanya soal baju baru dan hidangan khas, tapi juga tentang menyucikan hati. Salah satu tradisi yang tak pernah luput dalam perayaan ini adalah ziarah kubur atau nyekar ke makam sanak saudara.

Biasanya, anggota keluarga berbondong-bondong datang ke makam setelah Salat Ied, entah pagi atau sore. Mereka membawa bunga, air, dan doa yang dipanjatkan untuk keluarga yang telah lebih dulu pergi.

Tradisi ini bukan hanya untuk mengenang dan mendoakan yang telah tiada, tetapi juga menjadi pengingat akan kepastian ajal yang kelak akan menjemput. Dengan begitu, sisa hidup bisa diisi dengan amalan kebajikan sebagai bekal menuju akhirat.

Dalam catatan sejarah, tradisi nyekar di Nusantara disebut-sebut diperkenalkan oleh Wali Songo, para penyebar Islam di Pulau Jawa pada abad ke-14. Kebiasaan yang konon sudah berlangsung sejak era Hindu-Buddha itu kemudian diadaptasi dalam ajaran Islam dan terus lestari hingga kini.

Setiap tahun, jumlah peziarah kian membludak, terutama menjelang Ramadan serta di hari raya Idulfitri dan Iduladha. Ramainya kunjungan ke makam pun membuka peluang rezeki bagi sebagian orang.

Di Kutai Timur, misalnya, beberapa titik Tempat Pemakaman Umum (TPU) ramai dengan berbagai aktivitas ekonomi. Mulai dari penjual bunga tabur, penyedia jasa pembacaan doa, hingga tukang bersih-bersih makam.

Siang itu, di TPU Silva Duta Sangatta Selatan, panas menyengat seolah menantang siapa pun yang beraktivitas di luar. Stasiun BMKG mencatat suhu mencapai 35 derajat Celsius. Namun, terik tak menyurutkan semangat para pedagang yang menjajakan dagangannya.

Di bawah pondokan beratap seng, seorang ibu mengenakan daster oranye duduk santai, memotong daun pandan dengan cekatan. Dinding belakang lapaknya pun terbuat dari seng, sederhana tapi cukup untuk berteduh dari terik matahari.

Di meja kayu di depannya, kantong-kantong kresek berisi bunga tabur tertata rapi. Isinya campuran daun pandan yang sudah dipotong kecil-kecil dan bunga kertas alias bugenvil. Beberapa botol plastik berisi air tampak berjajar di sampingnya.

“Satu kresek bunga Rp 10.000, air lima ribu,” katanya dengan nada datar saat seorang peziarah merogoh uang dari kantongnya.

Lebaran bukan hanya perayaan, tetapi juga pertemuan antara kehidupan dan kematian. Nyekar menjadi jembatan bagi yang hidup untuk mengingat yang telah pergi, serta meneguhkan bahwa waktu yang tersisa harus dijalani sebaik-baiknya.(*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button